02 Nov 2026

RAGAM – Dalam rangka memperingati momentum bersejarah 100 Tahun Jam Gadang, Pemerintah Kota Bukittinggi bersama Kementerian Kebudayaan RI, gelar Seminar Internasional. Kegiatan ini berlangsung di Balai sidang Kota Bukittinggi, Sabtu, 20 Juni 2026

Seminar Internasional mengangkat tema “Bridging Friendship: Strengthening Indonesia–Netherlands Diplomatic Ties via Bukittinggi–Amsterdam”. Merajut tenun siplomasi antara Indonesia dan Belanda: Pengerakan kemerdekaan hingga repatriasi.

Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menyampaikan, terima kasih atas dukungan Kementrian Kebudayaan dan seluruh pihak lain yang mendukung pelaksanaan peringatan 100 tahun Jam Gadang. Momen ini sangat bersejarah, mengingat sudah 100 tahun Jam Gadang berdiri di Bukittinggi, sebagai salah satu saksi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan kegiatan ini, tentu menjadi langkah untuk memperkuat hubungan diplomatik Indonesia dan Belanda, khususnya Bukittinggi dan Belanda. Tidak hanya itu, dengan hadirnya 38 negara pada perhelatan 100 tahun Jam Gadang, tentu membuka peluang kerjasama dengan negara negara itu.

“Dengan kerjasama itu, kita ingin ada keuntungan bagi daerah Bukittinggi, yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.

Juni 2026, Jam Gadang genap berusia 100 tahun. Dalam 100 tahun itu, banyak hal yang terjadi. Namun di tengah banyak perubahan itu, Jam Gadang tetap berdiri tegak di jantung Kota Bukittinggi.

“Jam Gadang bukan hanya menara jam. Ia menjadi saksi sejarah. Ia penjaga memori kolektif masyarakat. Ia adalah simbol identitas sebuah kota. Ia penghubung masa lalu, masa sekarang dan masa depan,” ungkap Ramlan.

Tidak banyak kota di Indonesia yang memiliki posisi historis sekuat Bukittinggi. Sejarah ini bukan hanya untuk dibaca, tapi menjadi pelajaran berharga bagi anak bangsa dan dapat menjadi dasar dalam menjalin hubungan diplomatis dengan Belanda dan negara lainnya.

“Kami tidak hanya ingin Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan, namun kami ingin Bukittinggi sebagai salah satu pusat pembelajaran sejarah perjuangan bangsa-bangsa dunia. Kami ingin Bukittinggi menjadi tempat generasi muda belajar tentang kemerdekaan, demokrasi, toleransi, keberagaman dan kemanusiaan. Peringatan 100 Tahun Jam Gadang ini menjadi titik awal menuju cita-cita besar tersebut,” ujarnya

Selanjutnya Wako menambahkan, Pemko Bukittinggi menawarkan beberapa agenda strategis, kerjasama internasional. Pengembangan pusat arsip digital sejarah Bukittinggi dan hubungan Indonesia – Belanda. Pembentukan jejaring penelitian internasional, mengenai sejarah, budaya dan pendidikan. Pertukaran pelajar, guru, dosen dan peneliti. Pengembangan museum digital berbasis teknologi mutakhir. Penguatan ekonomi kreatif berbasis warisan budaya. Pengembangan wisata sejarah dan pendidikan. Serta penyelenggraan forum tahunan kota bersejarah dunia di Bukittinggi.

Duta Besar Kerajaan Belanda, Marc Gerritsen, menyampaikan, Bukittinggi yang dikenal sebagai Parisnya Sumatra memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia. Perlawanan masyarakat Minangkabau terhadap kolonialisme telah memperkuat identitas masyarakat yang berlandaskan adat dan agama, sekaligus melahirkan banyak tokoh intelektual dan pemimpin bangsa. Peran Bukittinggi dalam sejarah nasional, termasuk berdirinya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 1949.

“Hubungan Belanda dan Indonesia, khususnya Minangkabau, tidak hanya terjalin melalui sejarah, tetapi juga melalui pendidikan, budaya dan ekonomi. Jam Gadang sebagai simbol persahabatan yang langgeng antara kedua negara. Menara jam yang menjadi ikon Kota Bukittinggi itu telah menjadi saksi berbagai peristiwa penting selama satu abad terakhir,”ungkapnya

Menteri Kebudayaan RI, Prof. Fadli Zon, menyampaikan apresiasi atas inisiasi Pemerintah Kota Bukittinggi yang telah menggerakkan tidak hanya kesadaran pada sejarah dan budaya, tetapi juga menggerakkan ekonomi serta multiplier effect lainnya melalui peringatan 100 Tahun Jam Gadang. Ia menilai kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat identitas budaya sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat dan perekonomian daerah.

Jam Gadang ini dibangun 100 tahun lalu sebagai simbol perjalanan sejarah Minangkabau dan juga sejarah kemerdekaan Indonesia. Jam Gadang bukan sekadar ikon wisata, tetapi simbol perjalanan panjang sejarah masyarakat Minangkabau dan Kota Bukittinggi.

“Bukittinggi jadi simbol sejarah kemerdekaan Indonesia. Untuk itu, saya mendorong terus bagaimana slogan Bukittinggi Kota Perjuangan harus dikedepankan,” ungkapnya.

Fadli Zon, menambahkan, Bukittinggi memiliki peran penting dalam sejarah bangsa, terutama sebagai pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 1948. Ia menegaskan pentingnya menjaga warisan budaya sebagai identitas bangsa dan berharap peringatan 100 Tahun Jam Gadang menjadi momentum memperkuat pelestarian budaya Minangkabau dan Indonesia.

“Sejarah itu penting dan saat ini tugas seluruh pihak adalah bagaimana menjaga warisan budaya tersebut agar tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang,” ungkapnya

(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *