06 Jun 2026

Bukittinggi – Pemerintah Kota berhasil menekan pertumbuhan angka stunting di Bukittinggi. Dengan penurunan prevalensi yang cukup signifikan, menjadikan Bukittinggi kota dengan angka stunting terendah kedua di Sumatra Barat.

Menurut WHO (2020) stunting adalah pendek atau sangat pendek berdasarkan panjang / tinggi badan menurut usia yang kurang dari -2 standar deviasi (SD) pada kurva pertumbuhan WHO yang terjadi dikarenakan kondisi irreversibel akibat asupan nutrisi yang tidak adekuat dan/atau infeksi berulang / kronis yang terjadi dalam 1000 HPK.

Kepala DP3APPKB Bukittinggi, Nauli Handayani, menjelaskan, stunting menjadi isu nasional yang harus diantisipasi mulai dari masing masing daerah. Untuk itu, sejak 2022, berbagai upaya dilakukan Pemerintah Kota Bukittinggi untuk menekan laju stunting. Upaya yang dilakukan antara lain, interfensi dengan sasaran ibu hamil, interfensi dengan sasaran ibu menyusui dan anak usia 0 sampai 6 bulan serta interfensi dengan sasaran anak usia 6 sampai 24 bulan.

“Pemda melakukan 8 aksi konvergensi dalam upaya penegahan dan penurunan prevalensi stunting,” tambahnya.

Upaya upaya tersebut, lanjut Nauli, ternyata membuahkan hasil positif. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 prevalensi Balita Stunted Kota Bukittinggi sebesar 19%, dan pada Tahun 2022 turun menjadi 16,8%.

Wali Kota Bukittinggi, Erman Safar, menyampaikan, apresiasi kepada SKPD terkait dan tim percepatan penurunan stunting yang telah bekerja maksimal. Alhasil dengan interfensi yang dilakukan angka stunting Bukittinggi terus menurun.

Upaya yang dilakukan bersama, menampakkan hasil positif. Ini akan terus tingkatkan untuk melahirkan generasi yang berkualitas dan menjadi pemimpin hebat di masa depan.

“Ini perkembangan yang baik bagi angka stunting kita. Sejak 2022, stunting menjadi persoalan nasional yang harus kita selesaikan, termasuk Bukittinggi,” ungkap Wako, Rabu (1/3).

(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *